Trending
Wayang Golek, Seni Buhun Dengan Riwayat Syiar Islam

Wayang Golek, Seni Buhun Dengan Riwayat Syiar Islam

Rabu, 04 Desember 2019 18:00 Erni Nur'aeni Mice


 

Koropak.co.id - Wayang golek merupakan kesenian khas Jawa Barat yang membawakan kisah-kisah perwayangan dengan sosok Ramayana dan Mahabrata. Dahulu, wayang golek menjadi media dalam penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang bawakan oleh Sunan Kudus.

Untuk melestarikan kesenian wayang golek, Rumpun Padalangan Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya dalam mengisi Kibar Budaya Jilid 5 akan menggelar wayang golek di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya, Kamis (5/12/2019) besok.

Ditemui Koropak, Rabu (4/12/2019) Ketua Koordinator Rumpun Padalangan Utep Hartono mengatakan dalam penampilan di Kibar Budaya Jilid 5, pertunjukan wayang golek akan banyak diisi kaum muda yang menjadi Nayaga, yang merupakan terobosan kali pertama dari Dewan Kesenian.

"Saya membuat terobosan baru dalam pertunjukan wayang golek dengan dominan pemain dari kalangan kawula muda. Wayang golek merupakan pagelaran sarat makna, yang diharapkan dapat diapresiasi bersama sebagai upaya mencintai budaya sendiri," katanya.

 

Koropak.co.id - Wayang Golek, Seni Buhun Dengan Riwayat Syiar Islam (1)



Ditambahkan Utep, agar pesan dari pertunjukan ini dapat sampai kepada para kaum muda, Dewan Kesenian bekerjasama dengan Dinas Pendidikan, pihak sekolah serta Forum Musyawarah Guru Mata Pelajaran (MGMP) Seni Budaya Sunda karena dalam materi belajarnya terdapat materi untuk mengapresiasi suatu pertunjukan.

"Mereka sangat mengapresiasi dan menyanggupi untuk beramai-ramai menonton pertujukan seni wayang golek dengan catatan pelaksanaannya pada pagi hari agar dapat dikaitkan dengan kegiatan belajar mengajar," kata Utep.

Tidak hanya menggelar sebuah pertunjukan, akan digelar pula workshop pedalangan yang akan memberikan wawasan kepada apresiator tentang hal-hal yang terdapat dalam pewayangan dimulai dari musikalitas, sastra, sejarah, dan unsur lain dalam pedalangan.

Dengan hadirnya pertunjukan wayang golek tersebut, ucap Utep, akan tercipta dua output berbeda. Para penonton bisa belajar dan para pemain pun belajar. Bagi penonton, mereka akan belajar bagaimana mencintai budaya sendiri dan para pelaku seninya belajar untuk menambah kompetensi dalam berkesenian wayang golek.

"Dua sisi ini tentu akan menjadi upaya untuk melestarikan kesenian wayang golek dengan menumbuhkan rasa cinta terhadap wayang golek dari setiap insan," ujarnya.*

 

Baca : Jatuh Bangunnya Dunia Perfilman Di Tasikmalaya Bangkit Berkat TSFF

Berita Terkait