Trending
Sakral Naga Tasikmalaya Fokus Lestarikan Kesenian Karinding-Celempung

Sakral Naga Tasikmalaya Fokus Lestarikan Kesenian Karinding-Celempung

Sabtu, 15 Agustus 2020 10:25 Eris Kuswara Komunitas


 

Koropak.co.id - Karinding merupakan salah satu alat musik tradisional Indonesia yang dimainkan dengan cara disentil oleh ujung telunjuk sambil ditempel ke bibir. Alat musik ini termasuk dalam jenis lamelafon atau idiofon yang biasanya terbuat dari bahan pelepah aren atau bambu.

Saat ini, karinding banyak dilestarikan oleh suku Sunda termasuk salah satunya oleh grup musik yang menamai dirinya Grup Siliwangi Karinding Alam Natural Galunggung (Sakral Naga) Tasikmalaya.

Berbincang bersama Koropak, Sabtu (15/8/2020) Pendiri Grup Musik Sakral Naga, Muhamad Nasrulloh mengatakan, sejarah terbentuknya grup Sakral Naga ini berawal dari keluarganya sendiri di Singaparna dan Sariawangi Kabupaten Tasikmalaya.

"Sakral Naga berdiri sejak 2 Januari 2018 lalu dan alhamdulillah hingga kini grup musik ini masih aktif dan tetap berlatih. Saat ini, Sakral Naga mempunyai 10 orang personel yang diberi nama Raga Rasa," tutur Nasrulloh.

 

Baca : Angklung Buhun dan Dogdog Lojor di Kasepuhan Ciptagelar

Baca : Kemping Karinding Se-Jawa Barat Momentum Diskusi Bumi Terkini

 

Ditambahkan, tujuan didirikannya grup Sakral Naga, adalah untuk melestarikan kesenian musik tradisional dalam hal ini karinding agar tidak punah termakan zaman. Selain itu agar kesenian musik tradisional ini diambil oleh orang luar. Hal itu dikarenakan karinding merupakan aset dari suku Sunda yang sudah ada sebelum zaman Padjadjaran.

"Selain karinding, grup Sakral Naga juga mempunyai banyak alat musik tradisional Sunda lainnya seperti celempung, goong tiup, kolotok renteng dan bangbaraan. Namun untuk alat musik yang sering digunakan hanya 4 jenis saja yaitu, karinding, celempung, suling dan goong tiup," paparnya.

Dengan berdirinya grup Sakral Naga lanjut dia, diharapkan bisa menjadi cikal bakal lahirnya kembali musik tradisional Sunda. Bahkan diharapkan pula dapat melahirkan tunas-tunas baru untuk bisa lebih booming lagi.

"Bahkan ke depannya, kami juga ingin mendirikan sebuah kampung yang di dalamnya dihuni orang-orang khusus yang konsentrasi dalam berbagai kebudayaan dan kesenian Sunda," ujarnya.*

 

Baca : Pewayangan Sekar Bangbara Tasikmalaya Suguhkan Aransemen Musik Bambu