Trending
Sepeninggalan Syekh Haji Abdul Ghorib, Kampung Pesantren Berubah Jadi Kampung Cibeas

Sepeninggalan Syekh Haji Abdul Ghorib, Kampung Pesantren Berubah Jadi Kampung Cibeas

Kamis, 27 Agustus 2020 11:08 Hendra Cahya Legenda




Koropak.co.id - Pada tahun 1745 Masehi atau 1165 Hijriah, Syekh Haji Abdul Ghorib meninggal dunia pada usia 90 tahun, dan di makamkan di sebuah gunung Kampung Pesantren yang sekarang dikenal dengan nama Kampung Cibeas. Setelah beliau wafat, makamnya banyak dikunjungi oleh para peziarah yang berasal dari berbagai daerah baik di Kota maupun luar Kota Tasikmalaya.

Setelahnya Syekh Haji Abdul Ghorib meninggal dunia, para orangtua pada waktu itu mengadakan musyawarah dan penelitian, sehingga dihasilkanlah sebuah kesimpulan bahwa Kampung Pesantren berubah nama menjadi Kampung Cibeas. Hal ini dikarenakan, didekat bekas pesantren tersebut terdapat satu sumur tempat mandi dan mencuci beras atau dalam istilah bahasa Sunda "Ngisikan atau Ngumbah beas".

Berbincang bersama Koropak, Juru Kunci Makam Syekh Haji Abdul Ghorib, H Asep Saepudin S.IP mengatakan, hingga saat ini Sumur tersebut juga masih terus dipergunakan oleh masyarakat setempat. Sementara itu, menurut cerita orangtua zaman dahulu, dipinggir Kampung Cibeas ini juga terdapat sebuah kali atau Sungai yang didalamnya terdapat sebuah leuwi atau pusaran air yang dalam dan mengeluarkan air berwarna putih seperti air cucuran beras.

"Kali yang ada di daerah tersebut juga sampai sekarang terkenal dengan sebutan Kali Cibeas, karena airnya mengalir sampai ke Kali Cibangbay dan terus mengalir ke kali Ciwulan hingga berakhir di Laut Hindia sebelah selatan dari Kota Tasikmalaya," kata H Asep.

 

 

Sepeninggalan Syekh Haji Abdul Ghorib, Kampung Pesantren Berubah Jadi Kampung Cibeas

 

Baca : Mengenal Lebih Dekat Syekh Haji Abdul Ghorib


di gunung Kampung Cibeas tersebut hingga saat ini, terdapat 9 makam mulai dari makam Syekh Haji Abdul Ghorib, makam Raden Ajeng Ayu Sutri atau istri dari Syekh Haji Abdul Ghorib, makam Raden Paranakusumah atau Jaksa sumedang atau ayah dari Raden Surawijaya, makam Raden Surawijaya yang menjadi Wedana Cicariang dan merupakan anak dari Raden Paranakusumah atau bapak dari Raden Indrajaya.

"Kemudian juga makam dari Raden Ayu Inda atau istri dari Raden Surawijaya, makam Raden Indrajaya yang menjadi Wedana di Manonjaya dan juga merupakan anak dari Raden Surawijaya dan cucu dari Raden Paranakusumah, makam Ajengan Nursiban yang merupakan salah seorang pengikut Syekh Haji Abdul Ghorib, makam Raden Abdul Manaf dan Raden Abdulloh yang merupakan putra dari Syekh Haji Abdul Ghorib," ucapnya.

H Asep menuturkan, diketahui bahwa Raden Indrajaya yang menjadi wedana di Manonjaya ini merupakan buyut dari Raden Abas Wilaga Soemantri yang pernah menjadi Bupati Sukapura atau Tasikmalaya. Untuk silsilahnya sendiri, Raden Indrajaya mempunyai anak bernama Raden Haji Abu Bakar yang merupakan Penghulu Afdeling di Tasikmalaya. Raden Haji Abu Bakar pun mempunyai anak bernama Raden Cioh dan Raden Cioh mempunyai anak bernama Raden Abas Wilaga Soemantri.
Selain itu, Raden Indrajaya ini juga merupakan anak dari Raden Surawijaya dan merupakan cucu dari Raden Paranakusumah.

"Untuk pemeliharaan makam keramat Di Kampung Cibeas dilakukan secara turun temurun oleh Juru Kunci atau kuncen Cibeas, mulai dari Kolot yang merupakan putra dari Syekh Haji Abdul Ghorib. Kemudian dilanjutkan oleh sang anak yang bernama Anti. Setelah bapak anti, dilanjutkan kepada sang anaknya, Haji Abdurrohman, selanjutnya ke Haji Jarkasih. Kemudian ke KH M Muhjidin yang merupakan cucu dari Haji Abdurrohman, setelah itu ke cucu Haji Abdurrohman lainnya atau adik dari KH Muhjidin atau ayah saya Odjo Sutardjo dan diteruskan kembali kepada saya sendiri sebagai anaknya, H Asep Saepudin S.IP," ujarnya.*

 

Video : Penelusuran Sejarah Makam Syekh Haji Abdul Ghorib

 

Berita Terkait