Trending
Inilah Asal Usul Naga Kelinting di Telaga Ngebel Ponorogo

Inilah Asal Usul Naga Kelinting di Telaga Ngebel Ponorogo

Rabu, 01 September 2021 07:51 Rizky Legenda


 

Koropak.co.id - Diketahui, Telaga Ngebel yang berada di kaki Gunung Wilis sangat lekat dengan Legenda Naga Baru Klinting. Telaga ini berada di sekitar 30 kilometer ke arah timur dari pusat Kota Ponorogo. Selain itu, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Ponorogo juga turut membangun tugu Naga Baru Klinting di sudut telaga, sebagai salah satu spot foto sekaligus menjadi bukti adanya petilasan dan makam dari Nyi Latung serta adanya lesung yang memfosil di daerah Kare, Madiun.

Budayawan Ponorogo, Gondo mengatakan, Telaga Ngebel berawal dari sebuah legenda tentang seorang anak kecil berubah wujud seekor ular besar atau naga. Diketahui, pada saat itu penduduk desa tengah mengadakan acara besar berupa selamatan atau kenduri. Kemudian masyarakat desa juga turut berburu di hutan, namun sampai sore hari mereka masih belum menemukan binatang buruan.

"Setelah kelelahan mereka beristirahat di sebuah tempat, dan saat itu salah satu penduduk desa menancapkan parang atau goloknya di akar pohon. Namun saat diamati, rupanya getah akar pohon tersebut merupakan darah dari seekor ular besar. Akibatnya, ular besar ini pun tidak sengaja dibunuh oleh masyarakat desa. Untuk tempat kejadian itu oleh warga Ngebel dinamakan Semampir," kata Gondo sebagaimana dihimpun Koropak, Selasa (31/8/2021).

 

Baca : Legenda Situ Bagendit

Ia menambahkan, hingga saat ini ada satu pohon yang dipercaya warga sebagai lokasi penemuan ular besar tersebut. Sebab, di batang pohon itu tampak guratan bekas kulit ular yang menempel di pohon yang dikeramatkan warga. Sementara di lain lokasi, muncul seorang anak kecil yang meminta makan kepada Nyi Latung atau Mbok Rondo Latung. Sehingga anak itu pun dijamu dan diberi makan oleh Nyi Latung. Setelah itu, anak tersebut pun berpesan kepada Nyi Latung jika terdengar teriakan warga desa dan suara air, maka dia harus naik lesung dan membawa centong nasi.

"Si anak kecil itu kemudian ke pesta atau lokasi selamatan di sana, disana dia membuat sayembara dengan menancapkan lidi. Apabila lidi itu bisa dicabut maka dia akan kalah. Namun jika tidak bisa dicabut, maka si anak kecil itu meminta makanan. Ternyata setelah masyarakat berkerumun, tidak ada yang berhasil mencabut lidi tersebut. Sehingga si anak kecil itu pun mencabut lidinya hingga mengeluarkan banyak air," ucapnya.

Pihaknya menuturkan, bahkan daging ular yang dimasak pun berubah menjadi keong. Setelah itu, tidak berapa lama kemudian, Nyi Latung pun mendengar teriakan dan suara air. Sehingga dia pun langsung teringat pesan si anak kecil tadi untuk naik lesung dan membawa centong nasi. Nyi Latung pun terbawa arus ke arah barat laut hingga terdampar di batu besar yang saat ini dinamakan Bale Batur yang berada di Desa Ngebel. Lokasi itu jugalah yang menjadi makam Nyi Lantung yang hingga saat ini kondisinya masih terjaga.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini