Trending
Keunikan Tradisi Ngarot dan Desa Lelea

Keunikan Tradisi Ngarot dan Desa Lelea

Senin, 03 Januari 2022 10:34 Eris Kuswara Tradisi


 

Koropak.co.id - Tahukah kamu? Sebagai suatu tradisi yang hingga kini masih tetap dilestarikan, Ngarot tentu ada asal-usulnya. Diketahui, asal-usul munculnya tradisi Ngarot sendiri ternyata berkaitan dengan peristiwa disahkannya Lelea menjadi sebuah pemerintahan Desa.

Dilansir dari historyofcirebon.id, peristiwa tersebut terjadi pada tahun 1686 Masehi. Selain itu, sebelum tahun 1686, meskipun di Lelea sudah ada penduduk, akan tetapi daerah tersebut tidak memiliki pemerintahan dan penduduk disana kala itu hanya hidup secara berkelompok tanpa adanya seseorang yang didaulat sebagai kepala pemimpin.

Namun secara lambat laun, ketika Penduduk di Lelea semakin banyak, masyarakat pun pada akhirnya sepakat untuk mendirikan pemerintahan Desa. Bahkan mayoritas masyarakat kala itu juga sepakat untuk menunjuk Canggaran Winera sebagai Kuwu atau kepala desa Lelea yang pertama.

Sebagai seorang Kuwu di sebuah desa yang masih baru, Canggaran Winera berusaha sekuat tenaga untuk mengumpulkan dana agar bisa membangun Balai Desa dan kelengkapan lainnya yang berhubungan dengan desa. Seperti dengan mengangkat Pamong atau Perangkat Desa untuk membantu kinerjanya, hingga membenahi infrastruktur di desa yang baru mereka bangun.

Sementara itu, pada awalnya Canggaran Winera bersama perangkat desa lainnya bekerja tanpa digaji. Tidak jarang juga mereka malah mengeluarkan dana dari harta pribadinya untuk kepentingan pembangunan desa. Hal itu dikarenakan Desa Lelea pada waktu itu masih belum memiliki aset desa (Carik) sama sekali.

Setelah bertahun-tahun menjadi kepala Desa tanpa bayaran dan hidup dengan sengsara, saat itu ada satu orang kaya bernama Ki Kapol yang merasa kagum pada kinerja Canggaran Winera bersama perangkat desanya.

Sehingga, sebagai bentuk dukungannya terhadap Pemerintah Desa Lelea yang belum lama dibentuk, Ki Kapol pun menghadiahkan harta kekayaannya berupa sawah seluas 2,6 hektare untuk dijadikan sebagai tanah Carik desa.

Hadiah yang diberikan Ki Kapol kepada Pemerintah Desa Lelea membuat Canggaran Winera merasa terharu, karena kinerja yang mereka lakukan dihargai masyarakat. Oleh karena itulah, sebagai wujud atas rasa syukurnya, Canggaran Winera membuat suatu acara yang kelak dirayakan setiap tahun hingga menjadi sebuah tradisi dan tradisi itu bernama "Ngarot".

 

 

Baca : Mengenal Tradisi Barikan, Ketika Masyarakat Saling Bertukar Makanan

Ngarot sendiri berasal dari kata bahasa Sunda yakni "Ngauruet atau arot" yang berarti makan dan minum. Dinamakan demikian, karena hadiah sawah yang diberikan oleh Ki Kapol tersebut dapat dijadikan sebagai penghasilan atau biaya makan dan minum Kuwu dan Perangkat Desa.

Bahkan juga bisa dijadikan sebagai modal untuk mensejahterakan masyarakat desa. Dikarenakan Ngarot ini berkaitan dengan tanah carik desa, maka tradisi acara yang dibuat oleh Canggaran Winera pun berkaitan dengan pertanian.

Tradisi Ngarot dilaksanakan pada awal masuknya musim hujan yakni antara bulan Oktober hingga Desember dan masyarakat pada tradisi ini turut dilibatkan guna menyambut datangnya musim garap sawah. Dalam tradisi ini, mereka akan diajak untuk mendatangi tanah carik desa untuk melakukan doa dan syukuran.

Selain itu, dalam tradisi Ngarot juga turut disediakan alat atau benda serta ritual khusus untuk menyambut acara, mulai dari menyediakan Bibit Padi Unggulan yang telah didoakan untuk ditanam di tanah carik dan mendandani gadis-gadis desa yang masih perawan untuk mengantar dan mengarak bibit padi ke tanah carik.

Bibit padi unggulan yang didoakan itu juga dijadikan sebagai lambang usaha yang maksimal guna memperoleh hasil pertanian yang baik. Sementara gadis perawan dalam tradisi ini melambangkan harapan agar benih yang ditanam tumbuh subur, sesubur gadis-gadis perawan pilihan.

Seiring dengan bertambanhya penduduk Lelea dan adanya perubahan zaman, tradisi Ngarot semakin meriah. Hingga tradisi tersebut tidak hanya menjadi ajang pesta tahunan yang digelar di wilayah Kecamatan Lelea. Melainkan juga sudah menjadi adat dan tradisi Indramayu.

Pada pelaksanaannya, tradisi ngarot juga turut dimanfaatkan sebagai ajang mencari jodoh bagi orang-orang yang kesulitan dalam mendapatkan jodoh. Hal itu dikarenakan banyak generasi muda dan orang-orang yang belum mendapat jodoh berkumpul dalam tradisi itu.

Dikarenakan juga ada kepercayaan bahwa Ngarot membawa kesuburan dan tidak hanya kesuburan pertanian, akan tetapi juga kesuburan jodoh bagi orang-orang yang sedang mengharapkan jodoh.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Berita Terkait