Trending
Wujud Syukur Masyarakat Sunda dan Upacara Seren Taun

Wujud Syukur Masyarakat Sunda dan Upacara Seren Taun

Rabu, 05 Januari 2022 10:45 Eris Kuswara Tradisi


 

Koropak.co.id - Upacara Seren Taun dilaksanakan sebagai ungkapan rasa syukur sekaligus doa dari masyarakat Sunda atas suka duka yang mereka alami terutama dalam bidang pertanian selama setahun yang telah berlalu serta tahun yang akan datang.

Diketahui, upacara Seren taun ini dilaksanakan setiap tanggal 22 Bulan Rayagung sebagai bulan terakhir dalam perhitungan kalender Sunda. Selain berbagai ritual-ritual yang bersifat sakral, dalam upacara tersebut juga turut digelar aneka kesenian dan hiburan.

Sehingga dengan kata lain, tradisi yang dilakukan oleh masyarakat Sunda ini merupakan hubungan antara manusia dengan tuhan, dan juga dengan sesama mahluk atau alam, baik itu melalui kegiatan kesenian, pendidikan hingga sosial dan budaya.

Dilansir dari berbagai sumber, Upacara Seren Taun tersebut diawali dengan upacara ngajayak (Menjemput Padi) yang dilaksanakan pada tanggal 18 Rayagung. Kemudian dilanjutkan dengan upacara penumbukan padi sebagai puncak acaranya yang dilaksanakan pada tanggal 22 Rayagung.

Ngajayak sendiri dalam bahasa Sunda berarti menerima dan menyambut, sedangkan bilangan 18 dalam bahasa sunda diucapkan dalapan welas dan berkonotasi pada welas asih yang artinya cinta kasih serta kemurahan Tuhan yang telah menganugerahkan segala kehidupan bagi umat-Nya di segenap penjuru bumi.

Puncak acara Seren Taun berupa penumbukan padi pada tanggal 22 Rayagung ini juga tentunya memiliki makna tersendiri. Bilangan 22 dimaknai sebagai rangkaian dari bilangan 20 dan 2.

 

 

Baca : Keunikan Tradisi Ngarot dan Desa Lelea

Kemudian padi yang ditumbuk pada puncak acara upacara itu sebanyak 22 kwintal dengan pembagian 20 kwintal untuk ditumbuk dan dibagikan kembali kepada masyarakat, sementara 2 kwintal lagi digunakan sebagai benih. Selain itu, bilangan 20 juga merefleksikan unsur anatomi tubuh manusia.

Karena, baik laki-laki maupun perempuan memiliki 20 sifat wujud manusia yang meliputi getih atau darah, daging, bulu, kuku, rambut, kulit, urat, polo atau otak, bayah atau paru, ari atau hati, kalilipa atau limpa, mamaras atau maras, hamperu ataun empedu, tulang, sumsum, lamad atau lemak, gegembung atau lambung, peujit atau usus, ginjal dan jantung.

Ke-20 sifat wujud manusia itu tentunya menyatukan organ dan sel tubuh dengan fungsi yang beraneka ragam, atau dengan kata lain tubuh atau jasmani manusia dipandang sebagai suatu struktur hidup yang memiliki proses seperti hukum adikodrati.

Hukum adikodrati ini pun kemudian menjelma menjadi jirim (raga), jisim (nurani) dan pengakuan (aku). Sedangkan untuk bilangan 2, mengacu pada pengertian kehidupan siang dan malam, suka dan duka, baik dan buruk dan lain sebagainya.

Dalam upacara Seren Taun ini, yang menjadi objek utamanya adalah padi yang dianggap sebagai lambang kemakmuran. Karena, khususnya daerah Cigugur dan umumnya daerah sunda lain merupakan daerah pertanian yang memiliki berbagai kisah klasik satra sunda.

Contohnya seperti kisah Pwah Aci Sahyang Asri yang memberikan kesuburan bagi petani sebagai utusan dari Jabaning Langit yang turun ke bumi.

Dalam upacara Seren Taun inilah dituturkan kembali kisah-kisah klasik pantun Sunda yang bercerita tentang perjalanan Pwah Aci Sahyang Asri. Selain itu juga padi merupakan sumber bahan makanan utama yang memiliki pengaruh langsung pada ke-20 sifat wujud manusia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Berita Terkait