Trending
Gowok, Sebuah Tradisi Tabu yang Pernah Ada di Masyarakat Jawa

Gowok, Sebuah Tradisi Tabu yang Pernah Ada di Masyarakat Jawa

Sabtu, 08 Januari 2022 10:55 Eris Kuswara Tradisi


 

Koropak.co.id - Sejak zaman sekolah dulu, tentunya kita semua memahami bahwa Indonesia memiliki karakteristik yang multikultural. Sehingga, itulah yang menjadi alasan mengapa para petinggi negara pada zaman revolusi dahulu membungkus dengan rapi pemahaman tersebut dalam sebuah kalimata'Bhineka Tunggal Ika'.

Bahkan, saking multikultural dan penuh keberagaman, banyak hal yang kerap kita tidak ketahui dari Indonesia, salah satunya tradisi Gowok. Pastinya banyak yang merasa asing dengan nama ini kan?

Diketahui, tradisi ini memang merupakan salah satu tradisi kuno yang mungkin saat ini sudah punah. Jadi, sudah tidak mengherankan lagi apabila banyak orang saat ini tidak mengetahui tradisi tersebut. Lalu, apa sebenarnya tradisi Gowok itu?

Dilansir dari berbagai sumber, berdasarkan sejarahnya, tradisi pergowokan di daratan Jawa pada awalnya diperkenalkan oleh wanita asal Tiongkok bernama Goo Wok Niang yang datang ke Jawa bersama dengan Laksamana Cheng Ho pada tahun 1415-an.

Dalam waktu yang tak lama itu, praktik tersebut pada akhirnya dikenal banyak masyarakat Jawa hingga menjadi tradisi di kemudian harinya.

Penulis Indonesia yang pernah menulis novel tentang Gowok, Budi Sarjono mengatakan bahwa kata gowok sendiri dipakai untuk mengenang Goo Wok Niang, dan memang benar sekali ternyata ada cerita yang mendukung bahwasanya pemakaian kata gowok itu dilakukan oleh masyarakat Jawa yang sulit dalam melafalkan nama-nama orang Tiongkok secara benar.

Jadi, apa yang sebenarnya terjadi dalam sebuah tradisi bernama pergowokan ini?

Ahmad Tohari dalam bukunya 'Ronggeng Dukuh Paruk' menuliskan, seorang gowok mempunyai tugas dalam memperkenalkan seluk beluk tubuh dan cara memperlakukan perempuan pada remaja laki-laki yang beranjak dewasa.

Apa tujuannya? Ternyata tujuan dari pergowokan ini bisa dibilang mulia. Tradisi ini bertujuan untuk melatih seorang remaja laki-laki agar bisa menjadi dewasa yang dapat memuaskan perempuannya secara lahir dan batin di masa depan, khususnya pada saat menjalin hubungan rumah tangga.

Tidak disangka, ternyata praktik tersebut bisa diterima oleh masyarakat Jawa dan bisa jadi atas alasan memuaskan perempuan secara lahir batin itulah, yang membuat masyarakat Jawa bisa menerima praktik pergowokan dan menjadikannya sebagai sebuah tradisi.

Sementara itu, seorang gowok lumrahnya disewa oleh seorang ayah untuk melatih anak laki-lakinya yang akan menginjak masa dewasa. Diketahui pada zaman dahulu, patokan kedewasaan seorang laki-laki Jawa adalah khitan dan hal itu jugalah yang menjadi salah satu syarat penting bagi para remaja untuk menjalani masa pergowokan.

 

 

Baca : Pitutur Luhur dan Mitos Bagi Masyarakat Jawa

Tugas inti dari seorang gowok pada intinya memang mempersiapkan perjaka yang berkualitas pada malam pengantin. Akan tetapi ini bukan hanya soal seks saja, termasuk juga untuk urusan rumah tangga. Diketahui, lamanya masa pergowokan ini biasanya berlangsung hanya beberapa hari saja dan maksimal selesai dalam satu minggu.

Menurut Tohari, mempersiapkan seorang perjaka yang handal untuk malam pertama itu juga merupakan hal yang tidak perlu untuk dijelaskan, namun harus diketahui oleh semua orang. Jika mendengar pernyataan tersebut dinilai erotis sekali, namun dia menjelaskan bahwa seorang gowok akan memberi pelajaran kepada remaja laki-laki yang menjadi kliennya banyak hal perihal kehidupan rumah-tangga.

"Seorang gowok akan memberikan banyak sekali pelajaran dan membimbing kliennya, mulai dari keperluan dapur sampai dengan cara memperlakukan seorang istri secara baik. Contohnya seperti bagaimana caranya mengajak istri kondangan dan lain sebagainya. Selama menjadi gowok, dia akan tinggal hanya berdua dengan anak laki-laki tersebut," kata Tohari.

Sayangnya, belum banyak juga buku yang menjelaskan mengenai kisah gowok. Namun satu novel karya Budi Sardjono memberikan penjelasan mengenai seluk beluk dari pergowokan itu.

Menariknya, terdapat salah satu kutipan yang tertera pada novel karta Budi Sarjono berjudul 'Nyai Gowok' berbunyi "Wanita paling senang jika disentuh dengan lembut. Pelan-pelan, tidak usah tergesa-gesa".

Diketahui, novel tersebut menceritakan tentang pergowokan antara Nyai Lindri dengan remaja menjelang dewasa, Bagus Sasongko, di Temanggung. Berlatar pedesaan di tahun 1955, selayaknya gowok, Nyai Lindri mengajarkan beragam hal dalam rangka memperlakukan tubuh istrinya nanti.

Akan tetapi, bagi kita yang sudah terlanjur menaruh kesan negatif pada seorang gowok atau tradisi pergowokan, maka dianjurkan untuk membaca terlebih dahulu buku tersebut. Karena banyak sekali pesan-pesan yang disampaikan, terutama bagi para laki-laki agar bisa memperlakukan perempuan dengan mulia.

Sementara itu, dalam sebuah potongan bagian kecil dari novel itu juga, ada sebuah petuah dari Nyai Lindri untuk Bagus Sasongko, yang berbunyi, "Menjadi seorang lelaki yang bisa disebut sebagai lelanangin jagad itu, kalau dia bisa mengendalikan hawa nafsunya".

"Ingat itu ya, Mas. Hargailah wanita, jangan sekali-kali memandang bahwa mereka hanya sekadar objek pemuas nafsu. Jangan. Bagaimanapun Mas Bagus lahir dari rahim seorang wanita, bukan lahir dari batu gunung," lanjut Nyai Lindri yang kata-katanya ini bisa ditemukan di halaman 323 pad Novel Nyai Gowok Karya Budi Sardjono.

Untuk maksud dari lelanangin jagad yang diucapkan Nyai Lindri itu adalah lelaki mempesona yang mampu meluluhkan hati setiap wanita. Pesona dari lelaki itu abadi dan terpancar yang selalu bersinar sepanjang masa, takkan luruh oleh zaman dan takkan lekang oleh waktu.

Meski memiliki kesan yang erotis, bagaimana pun juga kita perlu menghormati tradisi Gowok sebagai sebuah tradisi yang pernah eksis di masa lalu. Dikarenakan juga kita ada saat ini adalah hasil dan bagian dari tradisi itu sendiri.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Berita Terkait