Trending
Mengenal Tradisi Minangkabau Pacu Jawi

Mengenal Tradisi Minangkabau Pacu Jawi

Senin, 10 Januari 2022 15:49 Eris Kuswara Tradisi


 

Koropak.co.id - Provinsi Sumatera Barat terkenal dengan tradisi dan Budayanya yang sangat beragam. Menariknya lagi, dari dahulu hingga kini, berbagai tradisi adat tersebut masih diselenggarakan di tengah-tengah masyarakat Minangkabau.

Tak hanya itu saja, tradisi adat yang masih diselenggarakan hingga kini itu juga selalu mampu mengundang wisatawan baik itu dari dalam maupun luar daerah hingga mancanegara. Salah satu tradisi yang menarik itu adalah berpacu dengan Jawi.

Dilansir dari berbagai sumber, Tradisi Pacu Jawi sendiri merupakan sebuah atraksi permainan tradisional berupa Pacuan sapi yang berasal dari Kabupaten Tanah Datar, Sumatera Barat yang dilaksanakan setiap tahunnya.

Uniknya, tradisi yang dilaksanakan secara turun temurun di Tanah Minangkabau ini ternyata sudah mendunia alias go internasional. Dikutip dari laman tanahdatar.go.id, Pacu Jawi juga merupakan alek anak nagari Kabupaten Tanah Datar yang dilaksanakan setiap selesai panen padi.

Namun saat ini, pacu jawi itu tidak lagi hanya sekedar menjadi sebuah tradisi, melainkan juga telah menjadi tujuan wisatawan dari mancanegara yang tentunya sangat ditunggu-tunggu oleh turis asing.

Tradisi yang satu ini juga diketahui merupakan bentuk rasa syukur atas panen yang diberikan sekaligus hiburan bagi masyarakat. Untuk melakukan Pacu Jawi, diperlukan sepasang sapi dan seorang joki untuk memacunya.

Uniknya lagi, joki Pacu Jawi tersebut sampai harus menggigit ekor sapi-sapinya agar mau berjalan. Jika sang joki dan sapinya menang, maka akan membuat nilai harga sapi saat dijual pun semakin mahal.

Selain itu, bagi masyarakat di Tanah Datar, Pacu Jawi juga mempunyai banyak makna. Salah satunya adalah mengingatkan masyarakat untuk tetap berjalan lurus dan mampu bekerja sama dengan baik tanpa bersinggungan.

Tradisi ini juga mengandung nilai luhur, karena selain dapat meningkatkan tali silaturahmi, pacu jawi juga mengenalkan kita tentang adat dan budaya khususnya yang ada di Tanah Datar.

Sementara itu, manfaat lain dari Pacu Jawi yakni dapat meningkatkan harga sapi, sehingga bisa menggerakkan perekonomian masyarakat di sekitarnya.

 

 

Baca : Gowok, Sebuah Tradisi Tabu yang Pernah Ada di Masyarakat Jawa

Sebagai salah satu Upacara Adat Sumatera Barat yang sangat ternama, ternyata berdasarkan sejarahnya Pacu Jawi telah ada sejak berabad-abad yang lalu. Permainan ini diketahui pada awalnya dilakukan setelah panen padi di kabupaten Tanah Datar, terutama di kecamatan Sungai Tarab, Pariangan, Lima Kaum, dan Rambatan.

Dulu, permainan ini hanya dilakukan dua kali dalam satu tahun karena menyesuaikan dengan siklus panen ketika itu. Namun dikarenakan sekarang siklusnya lebih pendek, membuat acaranya diadakan lebih sering. Untuk syarat utama sebelum menyelenggarakan acara pacu Jawi adalah, Gunung Marapi yang tingginya 2.891 meter itu harus sedang terlihat jelas.

Lalu, siapakah penemu tradisi ini? Penemu Pacu Jawi sendiri adalah datuak (Dt) Tantejo Gurhano, merupakan orang tetua yang terkenal arif dan bijaksana.

Saat itu, Dt Tantejo Gurhano berusaha mencari cara agar sawahnya bisa menjadi subur dan mudah ditanami. Dia pun berhasil menemukan caranya yakni dengan membajak sawah menggunakan jawi.

Hingga pada akhirnya, permainan yang sudah berusia sangat tua ini pun dijadikan sebagai sarana hiburan dan pengisi waktu luang bagi masyarakat setempat setelah panen padi berlangsung. Menariknya lagi, acara ini sendiri memang sudah digemari sejak awal kemunculannya, hingga saat ini.

Permainan ini memiliki filosofi bahwa antara pemimpin dan rakyat biasa memiliki kedudukan, wewenang dan hak yang berbeda bisa berjalan serta berdampingan bersama.

Dua ekor sapi yang bergandengan dalam tradisi Pacu Jawi ternyata menjadi simbol antara pemimpin dan rakyat biasa harus sama-sama bergerak dan berjuang menuju kemakmuran serta kesejahteraan.

Filosofi Pacu Jawi juga terlihat dari sistem penilaiannya, karena yang mendapat nilai tertinggi itu bukanlah sapi yang paling cepat atau yang pertama sampai ke garis finish, melainkan sapi yang berlari lurus hingga garis akhir. Sehingga, dari sinilah bisa kita ambil hikmah bahwa lebih baik mengutamakan keselamatan daripada tergesa-gesa tetapi celaka.

Selain itu, Pacuan Sapi ini dilakukan sendiri-sendiri oleh setiap pesertanya. Artinya, permainan ini tidak dilaksanakan secara sekaligus seperti perlombaan pada umumnya. Setelah 1 peserta selesai, barulah peserta lainnya tampil untuk menghindari adanya unsur taruhan atau perjudian dalam tradisi tersebut.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Berita Terkait