Trending
Tradisi Sakral Bau Nyale Lombok Tengah dan Mitos Putri Mandalika

Tradisi Sakral Bau Nyale Lombok Tengah dan Mitos Putri Mandalika

Selasa, 11 Januari 2022 15:13 Eris Kuswara Tradisi


 

Koropak.co.id - Berbicara mengenai tradisi Bau Nyale, secara etimologis Bau Nyale sendiri terdiri dari 2 suku kata, yakni 'Bau' yang dalam bahasa Indonesia berarti menangkap dan 'Nyale', cacing laut yang tergolong ke dalam jenis filumannelida.

Dilansir dari warisanbudaya.kemdikbud.go.id, tradisi Bau Nyale merupakan salah satu tradisi turun temurun yang sudah dilakukan oleh masyarakat Lombok Tengah Nusa Tenggara Barat (NTB) sejak ratusan tahun yang lalu.

Diketahui, awal mula tradisi ini sendiri tidak ada yang mengetahui secara pasti. Namun, berdasarkan isi babad sasak yang dipercaya oleh masyarakat, tradisi Bau Nyale sudah berlangsung sejak sebelum 16 abad silam.

Menurut perhitungan penanggalan tradisional Sasak, tradisi ini sendiri dilangsungkan setiap tanggal 20 bulan 10 atau dalam kalender masehi dilaksanakan sekitar bulan Februari dan bertempat di Pantai Seger, Kuta, Lombok Tengah, NTB.

Tradisi ini juga berkaitan dengan cerita mitos Putri Mandalika, yang diceritakan merupakan seorang putri berparas cantik dan berbudi luhur. Sehingga, Putri Mandalika pun diperebutkan oleh banyak pangeran dari berbagai kerajaan.

Namun sayangnya, Sang Putri justru memilih jalan lain untuk hidupnya dengan tidak menerima pinangan dari salah satu pangeran. Ia memiliki alasan jika menerima pinangan dari salah satu pangeran, maka akan terjadi bencana besar yang mengakibatkan kerugian bagi banyak orang.

Dalam ceritanya, Putri Mandalika juga rela mengorbankan jiwa dan raganya hanya demi keselamatan banyak orang dengan membuang dirinya ke tengah lautan dan menjelma menjadi nyale.

Prosesi Tradisi Bau Nyale sendiri diawali dengan diadakannya sangkep wariga, yaitu pertemuan para tokoh adat untuk menentukan hari baik (tanggal 20 bulan 10 penanggalan sasak) mengenai kapan saat Nyale tersebut keluar.

 

 

Baca : Mengenal Tradisi Minangkabau Pacu Jawi

Setelah itu, dilanjutkan dengan mepaosan, yaitu pembacaan lontar yang dilakukan oleh para mamik (tokoh adat) sehari sebelum pelaksanaan Tradisi Bau Nyale yang bertempat di bangunan tradisional dengan tiang empat yang disebut dengan Bale Saka Pat.

Pembacaan lontar yang dilakukan para mamik itu juga yakni dengan menembangkan beberapa pupuh atau nyanyian tradisional dengan urutan tembang yang dimulai dari Pupuh Smarandana, Pupuh Sinom, Pupuh Maskumambang dan diakhiri dengan Pupuh Ginada.

Sementara itu, tercatat beberapa piranti yang dipakai dalam prosesi ini diantaranya daun sirih, kapur, kembang setaman dengan Sembilan jenis bunga, dua buah gunungan yang berisi jajanan tradisional khas Sasak serta buah-buahan lokal.

Kemudian pada dini hari sebelum masyarakat mulai turun ke laut untuk menangkap nyale, para tokoh adat akan terlebih dahulu menggelar sebuah upacara adat yang diberi nama Nede Rahayu Ayuning Jagad.

Dalam prosesi upacara ini, para Tetua Adat Lombok akan berkumpul dengan posisi melingkar dan ditengah-tengah mereka diletakkan jajanan serta buah-buahan yang berbentuk gunungan. Setelah prosesi itu selesai, barulah masuk pada tradisi Bau Nyale.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Berita Terkait