Trending
Mengunjungi Tiongkok Kecil di Lasem Rembang

Mengunjungi Tiongkok Kecil di Lasem Rembang

Jum'at, 14 Januari 2022 12:18 Redaksi destinasi


 

Koropak.co.id - Tak salah bila sebutan tempat ini erat kaitannya dengan kebudayaan Tiongkok. Terkenal dengan nama Tingkok Kecil. Ada juga yang menyebutnya Beijing tempo dulu.

Daerah ini bernama Lasem. Sebuah kota kecil yang termasuk dalam wilayah Kabupaten Rembang Jawa Tengah. Kota kecamatan dengan 20 desa ini berada di jalur pesisir pantai utara Jawa dan merupakan daerah yang maju pada zamannya.

Nama Lasem pernah trending di Twitter. Tagar #LasemTrip menjadi pemuas dahaga bagi para petualang, terutama mereka yang menyukai destinasi sejarah dan eksotisme keanekaragaman budaya.

Tentang Lasem ini, Dian Rustyawati, dalam laman iainutuban.ac.id bercerita tentang petualangannya melintasi lorong-lorong sejarah yang tersisa di Lasem. Ia bersama rombongannya memilih Lasem sebagai tujuan perjalanan.

"Lasem dalam perkembangannya pernah menjadi bagian dalam sejarah panjang kedatangan leluhur Tionghoa ke tanah air namun jejaknya tak dikenali dan seolah terlindas laju waktu," tulisnya.

Dia menyebut, Lasem di masa lalu merupakan sebuah kerajaan kecil yang memiliki keterikatan erat dengan kerjaan Majapahit. Kerajaan yang dipimpin oleh Bhre Lasem ini merupakan kerajaan pendukung Majapahit dan memiliki peranan penting dalam perkembangan majapahit, khususnya dalam hal perdagangan.

"Dalam perkembangannya Kerajaan Lasem berubah menjadi Kadipaten Lasem dan menjadi bagian dari Kerajaan Pajang karena adanya ikatan perkawinan. Setelah kerajaan Pajang runtuh, Kadipaten Lasem berada dibawah kekuasaan Kerajaan Mataram dan dipimpin oleh seorang sunan. Saat inilah pengaruh Islam mulai masuk ke Lasem."

 

Baca : Teknologi Kriya Logam, Potret Warisan Budaya Dari Jawa Tengah


Ada cerita menarik dari Lasem ini, yang kaitannya dengan pelaut terkenal di dunia dan merupakan seorang muslim yang taat. Namanya Laksanama Ceng Ho.

Laksamana Ceng Ho pernah menginjakkan kaki di tanah Lasem pada abad ke-14 dan ini menjadi titik awal kejayaan etnis Tionghoa di Lasem. Keberadaan etnis Tionghoaini diketahui dari munculnya komplek permukiman Tionghoa pertama di desa Galangan. Komplek permukiman ini terdapat di sepanjang Sungai Lasem, dimana saat itu daerah di sekitar sungai dan laut merupakan kawasan yang memegang peranan penting dalam hal perdagangan dan transportasi.

"Perkembangan etnis Thionghoa di Lasem juga dipengaruhi oleh peristiwa pembantaian etnis Tionghoa secara besar-besaran di Batavia pada abad ke – 17 karena adanya kepentingan politik VOC yang merasa terancam. Orang-orang Tionghoa pada masa itu memutuskan untuk pindah ke Lasem dan membangun permukiman baru di desa Karang Turi."

"Lasem yang dulunya merupakan kerajaan sekarang menjadi sebuah ibu kota kecamatan di Kabupaten Rembang. Bangunan kerajaan Lasem sudah berubah fungsi, namun peninggalan kejayaan etnis Tionghoa masih terjaga sampai sekarang. Adanya klentheng tertua di Jawa, kampung pecinan, serta bangunan – bangunan tua berusia ratusan tahun masih berdiri tegak seolah bercerita tentang kejayaannya dimasa lalu."

 

 

Di Lasem, jejak peninggalan penduduk Tionghoa sangat kental. Ada beberapa situs sejarah yang terkenal, di antaranya adalah Rumah Candu. Pemandangan yang mudah dilihat di Lasem juga adalah bentuk pemukiman warga. Bangunan khas Tionghoa dengan pagar tinggi dan tulisan Cina masih banyak ditemukan di Lasem ini.

Tentang kondisi Lasem kekinian, InfoPublik.id menulis lebih dramatis. "Mau merasakan suasana kota Beijing lama? Tak usah jauh-jauh pergi ke Tiongkok. Cukup kiranya Anda pergi ke Lasem Rembang Jawa Tengah," tulis laman tersebut.

Berada di kota ini, anda bisa melihat bangunan-bangunan tua dengan arsitektur khas Cina yang dikelilingi tembok dengan gerbang bertuliskan huruf kanji yang berarti kalimat-kalimat bijak. Aneka bangunan itu bisa Anda lihat di sisi kanan-kiri jalan yang ada di kota itu.

Tulisan kanji itu hampir ada di semua rumah milik keturunan Cina. Tapi sebagian besar telah dihapus atau ditutup dengan papan pada masa Orde Baru lalu. Orde Baru memang melarang semua hal yang berbau Cina pasca tragedi 1965.

 

Baca : Komitmen Menag untuk Candi Prambanan dan Borobudur

Dalam sejarah, Lasem memang menjadi tempat awal pendaratan orang Cina di Pulau Jawa. Saking banyaknya peninggalan yang ada di kota ini, tak salah jika orang menjuluki Lasem sebagai "Tiongkok kecil."

Tak ingin warisan budaya itu lenyap, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) mulai menata kawasan pusaka Lasem. Salah satu yang ditata adalah kawasan Masjid Jami' Lasem.

Masjid berarsitektur Jawa yang didirikan 1588 Masehi merupakan simbol masuk dan berkembangnya Islam di Pulau Jawa.

Untuk bangunan Masjid Jami', menurut Ketua Takmir Masjid Jami’ Lasem, Abdul Muid, bangunan masjid bagian tengah dan serambi depan akan dibongkar total. Sedangkan bangunan utama tetap dipertahankan keasliannya, sebagai peninggalan tempo dulu. Kelak bangunan baru akan mengadopsi seperti Masjid Demak.

Total luas Kawasan Lasem yang ditangani Kementerian PUPR mencapai 13.606,35 meter persegi. Luasan itu meliputi kawasan alun-alun, pembangunan Pasar Lasem, rehabilitasi Masjid Jami’, dan penataan Kawasan Pecinan di Jalan Karangturi hingga Jalan Kauman.

Konsep penataan kawasan tetap melindungi elemen-elemen bangunan yang memiliki nilai sejarah secara komprehensif dengan disesuaikan pada keselarasan lingkungan dan mempertahankan kearifan lokal.

“Konsep penataan kawasan disesuaikan dengan fungsi kota sebagai kota budaya dan destinasi wisata yang selaras dengan lingkungan dan tetap mempertahankan kearifan lokal," kata Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Ahad (19/12/2021).

Menurut Staf Ahli Menteri PUPR Bidang Teknologi, Industri dan Lingkungan Endra S. Atmawidjaja, penataan Kota Pusaka Lasem harus mampu menghadirkan kembali nilai-nilai sejarah kota pusaka tersebut.

"Ini penting agar penataan yang dilakukan itu mampu membawa pengunjung ke masa lalu," ujar dia.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Berita Terkait