Trending
Peusijeuk, Tradisi Masyarakat Aceh yang Sudah Ada Sebelum Masuknya Agama Islam

Peusijeuk, Tradisi Masyarakat Aceh yang Sudah Ada Sebelum Masuknya Agama Islam

Jum'at, 14 Januari 2022 15:45 Eris Kuswara Tradisi


 

Koropak.co.id - Jika dilihat secara makna, maka Peusijeuk merujuk pada prosesi adat untuk memohon keselamatan di tiap-tiap kegiatan yang akan dilakukan oleh masyarakat Aceh.

Biasanya prosesi ini akan dilaksanakan saat acara perkawinan, kenduri sunatan, upacara adat, pulang berlayar hingga pada saat seseorang akan berangkat menunaikan ibadah haji.

Dilansir dari kebudayaan.kemdikbud.go.id, dalam tradisi ini, panjatan doa-doa keselamatan, shalawat dan doa-doa dalam ajaran agama Islam lainnya pun berkumandang dengan jelas seiring dengan keselamatan yang hendak diminta kepada Sang Pencipta.

Dimulai dari Peusijeuk inilah, masyarakat Aceh berharap kepada Allah SWT agar selalu memberikan keselamatan di setiap langkah yang diambilnya. Diketahui, Peusijeuk sendiri diambil dari kata dalam bahasa Aceh yakni sijue yang berarti dingin.

Pada umumnya, tradisi Peusijeuk yang sakral ini hanya boleh dilakukan oleh orang yang sudah dituakan oleh masyarakat setempat, seperti tokoh agama atau tokoh adat.

Sementara itu, dlansir dari grid.id, berdasarkan sejarahnya, awal dari tradisi upacara ini, dimulai ketika Aceh menerima ajaran agama Islam pada abad ketujuh oleh para pedagang dari Arab.

Ketika proses pengenalan agama Islam yang damai dan tanpa penaklukan itu, terjadilah pembauran suatu budaya, yaitu Islam dengan budaya masyarakat Aceh dan inilah yang menghasilkan suatu budaya baru yakni Peusijuek.

Sehingga, sebenarnya peusijuek tersebut sudah ada sebelum penyebaran agama Islam di Aceh. Akan tetapi terjadi perubahan pada doa-doa yang digunakan. Jika sebelumnya doa yang dipanjatkan berupa mantra-mantra dalam bahasa Aceh, kini sudah berganti menjadi doa-doa berbahasa Arab.

 

 

Baca : Pesona Tari Saman yang Mendunia

Oleh karena itulah, upacara adat Peusijuek masih ada dan mengakar dalam masyarakat Aceh hingga saat ini. Selain itu, untuk pelaksanaannya pun masih dilakukan sampai dengan sekarang, baik itu oleh perorangan maupun berkelompok untuk mengucapkan rasa syukur kepada Tuhan yang Maha Esa.

Dalam prosesi upacara adat Peusijuek, masyarakat Aceh akan mengundang orangtua yang dianggap sebagai tokoh agama dan tentunya mempunyai ilmu-ilmu keagamaan yang tinggi, seperti Tengku (ustadz) dan Umi Chik (ustadzah).

Kemudian, untuk orang yang sedang mengadakan upacara Peusijuek juga nantinya akan menyiapkan bahan-bahan untuk upacara. Mulai dari dedaunan dan reruputan untuk melambangkan keharmonisan, keindahan dan kerukunan. Tak ketinggalan juga beras dan padi yang melambangkan kesuburan, kemakmuran, dan kekuatan.

Selanjutnya bahan yang terakhir adalah air dan tepung ketan, sebagai simbol persaudaraan dan ketenangan. Setelah itu, Tengku pun akan memercikan air ke kiri dan ke kanan sambil melakukan gerakan-gerakan unik dengan menggunakan dedaunan dan rerumputan.

Beras dan padi akan ditaburkan, lalu tepung ketan akan dioleskan di telinga kanan dan kiri pada orang yang mempunyai acara Peusijuek. Namun, beberapa proses Peusijuek juga akan menyiapkan bahan-bahan lain seperti buah talam, kue, tempat cuci tangan dan tudung saji.

Setelah itu, Tengku akan memanjatkan doa-doa agar selalu dilimpahkan keselamatan, kedamaian, dan dimudahkan rezekinya pada Tuhan yang Maha Esa. Proses terakhir dari upacara adat Peusijuek ini adalah para tamu akan memberikan uang kepada orang yang menyelenggarakan Peusijeuk.

Pemberian uang tersebut biasanya dilakukan jika Peusijeuknya untuk calon jamaah haji, pernikahan dan acara sunat. Upacara adat peusijuek yang bernuansa Islam dan tetap dijalankan oleh masyarakat ini adalah adat istiadat dari apa yang kerajaan perintahkan pada rakyatnya. Oleh karena itulah, upacara adat yang terdapat unsur agamanya dipegang teguh oleh masyarakat Aceh.*

 

Lihat juga : Simak Berbagai Video Menarik Lainnya Disini

 

Berita Terkait