Trending
Atus, Budayawan Winduraja

Atus, Budayawan Winduraja

Selasa, 17 April 2018 15:05 Rizal Amirullah destinasi


Koropak.co.id - Winduraja, sebuah wilayah di Kecamatan Kawali Kabupaten Ciamis menyimpan kekayaan bersejarah. Pada ribuan tahun lalu, konon di Winduraja terdapat kerajaan Sunda kuno yang menjadi cikal bakal berdirinya sejumlah kerajaan di tatar Sunda, bahkan di Nusantara.

Atus, Budayawan Winduraja
Atus Gusmara

Hal itu terbukti dari banyaknya penemuan-penemuan benda pra sejarah yang menandakan adanya aktivitas kerajaan Sunda buhun. Adalah Atus Gusmara, salah seorang budayawan Sunda yang secara konsisten dan telaten mengguar histori kerajaan Sunda. Atus yang juga merupakan Ketua Komunitas Galuh Etnik Winduraja menuturkan serangkaian histori kerajaan Sunda di Winduraja tersurat dalam naskah Carita Parahyangan 1579 Masehi.

Dituliskan bahwa Winduraja adalah tempat pemusaraan yang dipilih oleh ketiga Raja Sunda, yakni Rakeyan Gendang dengan gelar Brajawisesa (989-1012 Masehi); Raja Darmaraja (1042-1065 Masehi); serta Raja Darmakusumah (1157-1175 Masehi).

Dari keturunan Darmakusuma lahirlah seorang Raja Kerajaan Sunda terkenal, yakni Darmasiksa, yang memerintah pada tahun 1171-1297 M. Sementara itu, Cicit Darmakusumah adalah Sang Nararya Sangramawijaya alias Rakeyan Raden Wijaya, yang merupakan pendiri kerajaan Majapahit.

“Rangkaian cerita tersebut, kami jadikan pijakan bahwa Winduraja jadi puseur tiga kerajaan, yakni Kerajaan Sunda, Kerajaan Galuh dan Kerajaan Galunggung,” ujarnya.

Dikatakan Atus, jika dilihat dari jejak warisan sejarah, di Desa Winduraja ditemukan lingga, di satu makam kuno, seperti di makam Sang Hyang Lingga Teuas, yang tidak jauh dari makam Eyang Maharaja Sakti. “Ada juga batu berundak di makam Argadinata, dengan disertai batu yang mirip dengan dolmen. Benda pra sejarah itu yang menjadi bukti sejarah adanya history kerajaan Sunda di Winduraja,” katanya.

Atus yang juga Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ciamis menuturkan banyak sekali potensi wisata di Winduraja, seperti Situ Wangi yang merupakan sumber air untuk masyarakat Winduraja yang airnya tida pernah habis. Terutama pada musim kemarau panjang. situ Wangi merupakan situ alam yang ada sejak zaman kerajaan Sunda Galuh.

Di Winduraja juga, kata Atus, ada Pasir Panawangan, yang merupakan dataran tinggi, dengan pemandangannya yang elok. Tempat ini sangat cocok untuk refreshing dan selfie. Selain mengguar potensi wisata, Atus juga membangkitkan kesenian Sunda buhun seperti Lodaya Winduraja, yang merupakan kesenian Sisingaan versi Winduraja.

"Kami terus berupaya untuk melestarikan kesenian buhun, dengan mendidik dan mengenalkan kesenian buhun kepada para pemuda, dan anak sekolah sebagai upaya regenerasi pegiat kesenian warisan leluhur," ucapnya.

Atus, Budayawan WindurajaTerdapat pula Sungai Cimuntur, sungai alam yang ada sejak kerajaan Sunda. Sejak awal, air di Sungai Cimuntur dipakai untuk irigasi, yang dibuktikan adanya bendungan yang dibuat dari tumpukan bebatuan tanpa perekat. Uniknya, bendungan itu tetap ada sampai sekarang.

"Keunikan lain dari air di Sungai Cimuntur, walau terlihat keruh, saat dipindahkan ke botol transparan, airnya jernih," kata Atus.

Melihat keistimewaan air dari Sungai Cimuntur tersebut, Atus mempelopori Arung Jeram di Sungai Cimuntur, menginventarisasi dan mengembangkan kesenian Sunda buhun di Winduraja, semuanya dilakukannya sendiri, dengan biaya sendiri.

"Semua itu didasari karena melihat potensi yang begitu luar biasa dari Desa Winduraja ini. Saya berharap upaya yang saya lakukan secara konsisten ini mendapat support dari berbagai pihak, terutama pemerintah daerah," ujarnya.*

Penulis : Rizal Amirullah

Berita Terkait