Trending
4 Tahun Menyusun Fermentasi Hujan dalam Sepatu

4 Tahun Menyusun Fermentasi Hujan dalam Sepatu

Sabtu, 26 Mei 2018 13:55 Dede Hadiyana Tradisi


Koropak.co.id - Siapa disangka, naskah "Fermentasi Hujan dalam Sepatu" yang akan dipentaskan oleh Kantor Teater Jakarta di Sanggar Komunitas Cermin Tasikmalaya, Jalan Pemuda Nomor 2A Gang Apolo Kota Tasikmalaya, Minggu (20/5/2018) mulai pukul 20.00 WIB, disusun dan dituntaskan dalam jangka waktu 4 tahun.

Penulis Naskah sekaligus Pelaku Seni dari Kantor Teater Jakarta, Roy Julian menceritakan penyusunan naskah Fermentasi Hujan dalam Sepatu tidak dilakukan secara mudah. Dilakukan perjalanan berkelana dari kota ke kota, untuk mengumpulkan poin-poin moral yang disusun menjadi satu rangkaian naskah.

Fermentasi, kata Roy, diartikan sebagai penyerapan. Hujan diartikan sebagai simbol perasaan karena ketika hujan, semua perasaan-perasaan akan keluar. Sementara sepatu adalah simbol perjalanan.

"Pada intinya, Fermentasi Hujan dalam Sepatu memberi kabar tentang perjalanan pulang. Setiap orang sedang melakukan perjalanan pulangnya atau membangun rumahnya sendiri-sendiri. Perjalanan ini saya pikir hal yang penting untuk dicatat, untuk digambarkan, kita disitu berhadapan dengan berbagai kesakitan, banyak keputusasaan, juga ada kebahagiaan, yang terkadang kita lupa dengan hal-hal perasaan seperti itu yang lewat begitu saja tanpa dicatat," tuturnya.

Baca pula : Pementasan Teater "Fermentasi Hujan dalam Sepatu"

Dijelaskan Roy, manusia dibentuk dari dan untuk melakukan perjalanan. Pada hakekatnya, kisah satu orang adalah kisah semua orang di muka bumi.

4 Tahun Menyusun "Fermentasi Hujan dalam Sepatu"

"Jadi Fermentasi Hujan dalam Sepatu bisa diartikan endapan-endapan perasaan yang dijumpai dalam perjalanan atau menjadi gambaran perjalanan kehidupan," kata Roy.

Roy menjelaskan, pada pelaksanaannya nanti, pementasan Fermentasi Hujan dalam Sepatu tidak berorientasi bahwa penonton harus bisa menangkap makna dari Fermentasi Hujan dalam Sepatu ini. Akan tetapi bagaimana caranya agar apa yang disampaikan bisa masuk ke dalam sel memori penonton.

"Pertunjukan ini adalah stimulus bagi hidup mereka sendiri yang pada akhirnya ketika mereka menonton ini, satu-satunya yang penting bagi mereka adalah perjalanan hidup mereka sendiri ketika keluar dari pertunjukan ini, mereka bisa melihat ke dalam diri mereka sendiri," tutur Roy.*

 

 

Berita Terkait