Trending
Napak Tilas Eyang Imam Fakih

Napak Tilas Eyang Imam Fakih

Minggu, 15 Juli 2018 14:30 Rizal Amirullah destinasi


 

Koropak.co.id - Eyang Imam Fakih, memiliki nama asli Tubagus Arifin, berasal dari Makassar, dan lama tinggal di Cirebon sehingga mendapat sebutan nama Tubagus Ciwaru. Karena ahli dalam ilmu fikih, Tubagus Arifin mendapat julukan Fakih. Berdasarkan cerita yang berkembang di masyarakat, Eyang Imam Fakih masih memiliki hubungan kerabat dengan Sunan Gunung Jati Cirebon.

Selain ahli ilmu fikih, dalam penyebaran agama Islam, Eyang Fakih juga mengajarkan ilmu bertani kepada masyarakat. Tak heran jika banyak sekali orang yang mau belajar ilmu agama dan ilmu bertani dari Eyang Imam Fakih hingga ribuan orang jumlahnya.

Konon Eyang Imam Fakih adalah teman seperjuangan Pangeran Diponegoro, tahun 1825-1830 ketika melawan, dan mengusir Belanda. Namun ketika Pangeran Diponegoro ditangkap Belanda, Eyang Imam Fakih dikabarkan bisa meloloskan diri, sampai ahirnya mendapat tempat yang cocok untuk peristirahatan dan penghidupan, yakni di Dusun Lemah Nendeut, Desa Awiluar, Kecamatan Kawali Ciamis.

Cerita lain yang berkembang di masyarakat, ketika solat Jumat, Eyang Imam Fakih rajin bershalat Jumat di Makkah. Tadinya masyarakat tidak percaya jika Eyang Imam Fakih melakukan shalat Jumat di Makkah. Karena secara nalar, sangat tidak mungkin dalam 1 hari bisa pulang pergi.

Apalagi kala itu belum ada transportasi yang menunjang pulang pergi dalam 1 hari. Tapi konon katanya, ketika istrinya meminta buah Kurma yang masih segar, yang masih basah ditangkainya ternyata Eyang Imam Fakih bisa memenuhinya. Ahirnya masyarakat sekitar percaya

Napak Tilas Eyang Imam Fakih


Baca pula : Situ Sanghiyang Adidampul Cibarani

Hal lain yang menguatkan bukti Eyang Imam Fakih bisa pulang pergi ke Makkah, adalah sumur yang lokasinya 200 meter dari lokasi makam Eyang Imam Fakih. Sumur yang disebut PASILEMAN itu dipercaya sebagai tempat Eyang Imam Fakih untuk pulang pergi ke Makkah. Akan tetapi seiring waktu berjalan, sumur PASILEMAN itu kini sudah tiada.

Kuncen Makam Eyang Imam Fakih, Toha menyesali patilasan sumur PASILEMAN yang sudah tidak ada lagi. Bahkan, bukan hanya itu saja, peninggalan yang lain seperti jubah si Rebo pun hilang.

Dinamakan si Rebo, karena bila dicuci hari Rabu, jubah itu akan kering pada hari Rabu pula. Begitu halnya dengan tasbih Eyang Imam Fakih yang raib entah kemana. Juga pohon jati besar yang tumbuh dekat makam Eyang Iman Fakih yang ditebang. Padahal pohon-pohon di sekitar makam bisa dijadikan alat untuk menghitung umur suatu makam. Karna pada umumnya tidak ada data jelas pada nisan makam kuno.

Baca pula : Riwayat Borosngora dan Bumi Alit Panjalu

Napak Tilas Eyang Imam Fakih


Eyang Imam Fakih dipercaya mempunyai jin suruhan yang disebut khodam. Ada dua jin khodam, bernama Aki Nuridin dan Aki Paul. Semasa hidupnya, Eyang Imam Fakih mempunyai sawah yang sangat luas, dan kerbau yang banyak. Untuk sekali memandikan kerbau, Eyang Imam Fakih memandikannya di Situ Wangi, Winduraja Kawali.

Jadi situ wangi adalah tempat yang dibuat oleh Eyang Imam Fakih untuk memandikan kerbaunya. Sampai sekarang, Situ Wangi pun masih ada, bahkan menjadi salahsatu destinasi tujuan wisata di Winduraja Kawali.

"Selain Situ Wangi, adapula mata air BUNUT, yang biasa dipakai untuk bersih-bersih masyarakat ketika selesai bersawah. Itu adalah bukti tempat yang pernah dipakai oleh Eyang Imam Fakih," ujar Toha.

Dalam silsilah keturunan, Eyang Imam Fakih mempunyai 5 anak yaitu H. Abas, H. Mudohir, H. Abubakar, H. Aliyudin, H. Aripudin. Eyang Imam Fakih memiliki 4 istri, yaitu Eyang Nyai, Eyang Surwiyah, Eyang Ruhay, dan Eyang Ningrum.

Tiga istri Eyang Iman Fakih dimakamkan di sekitar makam Eyang Imam Fakih. Kecuali Eyang Ruhay dimakamkan di Salam, Panawangan Ciamis. Sampai sekarang, Makam Eyang Imam Fakih banyak dikunjungi oleh penziarah dari luar kota seperti Kuningan, Cianjur, hingga Banten. Bahkan ada yang menginap sampai 3 minggu.

Baca pula : Bendungan Purba Cimuntur

"Silahkan saja yang mau ziarah ke Makam Eyang Imam Fakih, kapan saja. Mau langsung sendiri boleh, mau minta diantar saya, silahkan saja. Tapi dengan catatan, segala niat dan permintaan ditujukan kepada Allah SWT," kata Toha yang merupakan kuncen sukarela tanpa honor meski ditunjuk sebagai kuncen berkat surat tugas dari Pemerintah Kabupaten Ciamis.*

Berita Terkait