Trending
Bendera Bukan Sekedar Sehelai Kain!

Bendera Bukan Sekedar Sehelai Kain!

Jum'at, 30 November 2018 18:12 Dede Hadiyana Mice



Koropak.co.id - Pimpinan Produksi Pementasan dari Institut Seni Indonesia (ISI) Padangpanjang, Sumatera Barat, Enrico Alamo mengapresiasi kegiatan Anugerah Budaya dan Festival Putu Wijaya yang digelar Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya.

Hal itu, kata Enrico, merupakan sebuah gebrakan luar biasa di kalangan para seniman. Mengingat sebelumnya pada 21 Februari 2018 lalu, ISI Yogyakarta juga akan menganugerahkan gelar Doktor Honoris Causa (HC) kepada Putu Wijaya.

"Namun itukan penghargaan tingkat institusi. Nah, acara ini merupakan langkah besar dalam memberikan penghargaan kepada Mas Putu Wija. Penghargaan tersebut sangat tepat mengingat sebagaimana kita ketahui bersama, Mas Putu itu tokoh teater Indonesia," kata Enrico kepada Koropak selepas pementasan Teater ISI Padangpanjang, Kamis (29/11/2018).

Saat ini, kata Enrico, di Indonesia hanya menyisakan 2 seniman legendaris, yakni Putu Wijaya dan Ratna Riantiarno. Diharapkan ke depan, Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya bisa menghadirkan Festival Ratna Riantiarno.

 

Koropak.co.id - Bendera Bukan Sekedar Sehelai Kain! (2)

 

Baca : Tampil Maksimal, Penuh Kesehajaan

 

Dijelaskan Enrico, Indonesia merupakan negara yang memiliki beragam suku bangsa, adat dan budaya. Hal tersebut dapat dimanfaatkan dengan mudah oleh oknum-oknum tak bertanggungjawab untuk memicu konflik di dalam masyarakat. Untuk menghindarinya, dibutuhkan kesadaran akan pentingnya rasa cinta terhadap Tanah Air agar tercipta persatuan dan kesatuan dalam proses berkebangsaan.

"Melalui lakon Blong, sutradara menggambarkan fenomena sosial dan politik bangsa Indonesia, yang menjadi pemicu krisis identitas kebangsaan yang terjadi di Indonesia. Pesan yang disampaikan dalam pertunjukkan kami, adalah bagaimana agar kita kembali memaknai arti sebuah bendera. Bendera bukan hanya sebuah kain yang dipajang, akan tetapi bagaimana kain itu menjadi semangat perjuangan," katanya.

Enrico pun berharap, persembahan Teater ISI Padangpanjang dengan lakon Blong karya Putu Wijaya dapat menjadi ruang imajinatif bagi segenap penonton. "Diharapkan juga bahwa bentuk penyakit kebudayaan dalam kehidupan manusia saat ini, dapat disembuhkan secara proposional dan sistematis melalui proses dialektika pemikiran," ujarnya.*

 

Baca : Teater ISI Pandangpanjang Patut Diapresiasi

 

Berita Terkait