Trending
Reinterpretasi Aduh, Semua Sakit Juga

Reinterpretasi Aduh, Semua Sakit Juga

Rabu, 05 Desember 2018 17:41 Didit Fauzi Mice



Koropak.co.id - Teater Payung Hitam menjadi pamungkas dari rangkaian Anugerah Budaya dan Festival Putu Wijaya yang digelar Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya sejak 27 November hingga 4 Desember 2018.

Tampil di pengujung acara, pada Selasa (4/12/2018) malam, Teater Payung Hitam mementaskan naskah Semua Sakit Juga yang merupakan reinterpretasi dari naskah Aduh karya sang maestro, Putu Wijaya.

Teater Payung Hitam tampil secara outdoor dengan melibatkan beberapa unit mobil sebagai media penerangan, serta satu unit ambulance PMI Kota Tasikmalaya yang menjadi objek utama dalam konsep pementasan yang ditampilkan.

Sutradara Teater Payung Hitam, Rachman Sabur menuturkan pementasan yang ditampilkan Teater Payung Hitam secara outdoor merupakan alternatif dari yang sebelumnya dipersiapkan indoor.

"Kami di sini menyambungkan apa yang ditampilkan Mas Putu Wijaya melalui naskah Aduh. Kita menampilkan reinterpretasinya yang dikemas dalam naskah Semua Sakit Juga, yang kebetulan bagi saya, ini kali ketiga melakukan pendekatakan terhdap naskah Aduh," katanya.

 

Koropak.co.id - Reinterpretasi Aduh, Semua Sakit Juga (2)

 

Baca : Tiga Filosofi Mengenal Keresahan

 

Semua Sakit Juga, kata Rachman, mempresentasikan bahwa kesakitan itu bukan hanya dirasa satu orang, namun menular dan mewabah. Itulah yang menjadi potret bangsa saat ini. Melalui Semua Sakit Juga, Rachman turut mengutarakan bagaimana keinginannya menjadikan bahasa tubuh itu universal.

Perihal inisiasi Anugerah Budaya dan Festival Putu Wijaya, diakuinya ada keyakinan yang mendorongnya untuk mewujudkan pentas tersebut. Diceritakannya, sebelum memutuskan dilaksanakan di Kota Tasikmalaya, dia sempat mewacanakannya bersama Jurusan Teater di Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung.

"Setahun, saya sangat kecewa. Namun Mas Putu mengingatkan agar saya jangan marah. Akhirnya saya bawa program ini ke Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya, mendiskusikannya bahwa ini merupakan penghargaan dari seniman untuk seniman. Respons di daerah ini sangat luar biasa hingga dapat terlaksana acara ini," ucap Rachman.

 

Koropak.co.id - Reinterpretasi Aduh, Semua Sakit Juga (3)

 

Baca : Penggiat Teater di Daerah Lebih Punya Semangat

Melalui Anugerah Budaya dan Festival Putu Wijaya, kata Rachman, dirinya ingin memberikan sebuah penghargaan kepada Putu Wijaya saat Putu Wijaya masih ada. Sekaligus memberikan pesan bahwa masih ada para generasi muda yang akan melanjutkan perjuangan militansi Putu Wijaya.

"Mas Putu jangan khawatir, masih banyak yang akan melanjutkan perjuangan Mas Putu. Semangat dan etos kerja Mas Putu akan diteruskan oleh spirit generasi muda," kata Rachman.

Rachman berharap, di tahun depan, Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya dapat membuat prorgam yang lebih baik lagi, dengan harapan Kota Tasikmalaya jadi salah satu sentra budaya di Jawa Barat, karena Jawa Barat bukan hanya Bandung, tapi Jawa Barat juga memiliki Kota Tasikmalaya.

 

Baca : Sebalut Pilu Indonesia Dalam Pentas Ngaos Art

 

Berita Terkait