Trending
Sudut Pandang Berbeda Seorang Muslimah

Sudut Pandang Berbeda Seorang Muslimah

Sabtu, 13 April 2019 19:52 Erni Nur'aeni Mice


 

Koropak.co.id - Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Siliwangi (Unsil) mengadakan kegiatan bedah buku bertajuk "Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur" di Ruang RHU 05 FKIP Unsil, Sabtu (13/4/2019).

Dikonfirmasi Koropak selepas acara, Ketua Pelaksana Bedah Buku, Neng Muhibah mengatakan dengan maraknya kegiatan yang mengatasnamakan hijrah, tidak sedikit orang-orang berbondong-bondong mengenakan pakaian yang lebar dan tertutup, namun belum mengetahui makna sebenarnya.

"Kita memilih buku ini untuk dibedah, karena saat ini sedang marak-maraknya orang-orang yang mengatasnamakan hijrah dengan memakai hijab panjang dan lebar tanpa mereka ketahui makna dari hijrah itu sendiri," kata Neng.

Bedah buku bertujuan untuk memberikan pengetahuan bahwa Nidah Kirana yang diceritakan dalam novel tersebut sebagai seorang muslimah sejati, dapat terjebak dan terjerumus ke dalam dunia kepelacuran. Meskipun Nidah mengikuti banyak pengajian dan organisasi keagamaan, namun jika tidak didasari bersama pondasi yang kuat malah justru menyeretnya ke hal-hal negatif.

"Kita ingin memberi tahukan bahwa seorang Nidah saja dapat terjerumus apalagi kita kalau tidak didasari oleh keimanan yang kuat mungkin saja terseret ke dalam hal yang sama," ucapnya.

 

Koropak.co.id - Sudut Pandang Berbeda Seorang Muslimah (2)

 

Baca : Eksplorasi Nidah dan Kegundahan Pelacur

 

Dari novel tersebut, dapat diambil hikmahnya dan berharap apresiator lebih memperdalam sebuah novel sastra, karena akan mendapat sudut pandang baru dari apa yang dibaca. Seperti buku ini, meskipun menceritakan seorang muslimah yang terjebak menjadi pelacur, namun dapat diketahui penyebab ia terjun menjadi seorang tuna susila.

"Harapannya kita bisa mengambil dari sisi sudut pandang berbeda kenapa seorang Nidah Kirani menjadi pelacur. Meskipun seorang pelacur itu negatif, tetapi kita harus tahu penyebab ia menjadi seorang pelacur yang bahkan dosennya sendiri menjadi germonya," ujarnya.

Kata Neng, direncanakan ke depan akan mengadakan bedah buku 3 bulan sekali dengan judul buku yang berbeda sebagai salah satu pembelajaran dan pemahaman mengenai sebuah sastra novel.

"Insyaallah, bedah buku akan diadakan 3 bulan sekali, karena ini sangat penting untuk memahami sebuah sastra novel," katanya.*

 

Baca: Berkesan, Teater Mati Sehari Menjelang Pemilukada

 

Berita Terkait