Trending
Cirebon Jadi Pusat Perdagangan Multi Bangsa

Cirebon Jadi Pusat Perdagangan Multi Bangsa

Sabtu, 18 Mei 2019 19:27 Rizal Amirullah Legenda



Koropak.co.id - Keraton Kasepuhan Cirebon juga memiliki satu prasasti yang cukup mencuri perhatian, yakni Batu Lingga Yoni, yang artinya lambang kesuburan. Prasasti tersebut kesohor hingga ke berbagai penjuru daerah.

Mendampingi Koropak saat ekspedisi, Kamis (16/5/2019), Pemandu Keraton Kasepuhan Cirebon, Ferry menuturkan selain Batu Lingga Yoni, juga terdapat meja dan bangku batu pemberian Gubernur Jenderal Inggris S.T. Raffles pada tahun 1811 Masehi yang turut menjadi bukti sejarah adanya kerajaan bernama Singapura.

"Dulu di Cirebon pernah ada kerajaan yang bernama Singapura, lokasinya tidak jauh dari Pemakaman Gunung Sembung di Lawang Gede, Alun-alun Astana Gunungjati Cirebon. Gunung Sembung tidak lain adalah mertua dari Sunan Gunung Jati. Saat itu, nama Kerajaan Cirebon berubah menjadi Grage, berganti lagi menjadi Caruban, dan kembali menjadi Cirebon," katanya.

Kekuasaan kerajaan Singapura di bawah kuasa Raja Gunung Sembung, kata Ferry, baru sampai ke Tumasik, sebuah pulau kecil dekat semenanjung Malaya yang kemudian pulau tersebut dikuasai Inggris. Asal muasal nama Singapura sendiri merupakan pemberian S.T. Raffles yang diambil dari Cirebon yang ditukar dengan prasasti meja dan kursi batu.

 

Koropak.co.id - Cirebon Jadi Pusat Perdagangan Multi Bangsa 2

 

Baca : Keraton Kasepuhan Cirebon, Riwayatmu Dikenal Dunia

Kembali ke histori Cirebon, sang raja yang merupakan menantu Gunung Sembung, yakni Sunan Gunung Jati, merupakan cucu Prabu Siliwangi yang ibunya adalah Larasantang, nama lainnya adalah Syarifah Mudaim. Sedangkan ayahnya adalah Syarief Abdullah, orang Arab masih keturunan Nabi Muhammad SAW.

"Sunan Gunung Jati yang memiliki nama asli Syech Syarief Hidayatullah pernah menikah sebanyak 4 kali. Istri pertamanya adalah Pakung Wati yang namanya diabadikan sebagai nama Keraton Kasepuhan Cirebon. Setelah Pakung Wati meninggal, Sunan Gunung Jati menikah lagi dengan Tepa Sari, putri Sultan Demak," kata Ferry.

Dari Tepa Sari, ucap Ferry, Sunan Gunung Jati mempunyai anak yang bernama Mas Muhammad Arifin.Setelah Tepa Sari wafat, Sunan Gunung Jati menikah lagi dengan putri Kaisar Cina yang bernama Ong Tien.

"Dari pernikahan dengan Ong Tien, Sunan Gunung Jati tidak mempunyai anak. Sementara istri keempatnya adalah Nyimas Kaung Anten, putri Bupati Banten. Dari pernikahannya dengan Nyimas Kaung Anten, Sunan Gunung Jati mempunyai putra bernama Sultan Hasanudin dan Ratu Winaon," tutur Ferry.

 

Koropak.co.id - Cirebon Jadi Pusat Perdagangan Multi Bangsa 4

 

Baca : Legenda Pangeran Papak Cinunuk Garut

Dijelaskan Ferry, menurut sejarah, Sunan Gunung Jati berusia 120 tahun dan dimakamkan di Pemakaman Gunung Sembung yang jaraknya sekitar 7 Kilometer dari Keraton Kasepuhan Cirebon. Makamnya sampai sekarang ramai dikunjungi para peziarah dari berbagai penjuru daerah.

Di lokasi pemakaman Gunung Sembung terdapat bangunan yang dikelilingi kaca tempat disimpañya hadiah Sunan Gunung Jati dari sang kakek, Prabu Siliwangi.

"Keunikan dari bangunan di era Sunan Gunung Jati dapat terlihat dari banyaknya keramik yang ditempelkan. Baik berupa piring, cawan,hingga keramik segi 4 yang banyak menceritakan tentang kitab injil," ujar Ferry.

Adapun arsitektur dan ornamen Keraton Kasepuhan Cirebon, banyak yang bermotif Cina, India, Arab, hingga Portugis. Hal itu dikarenakan semasa kekuasaan Sunan Gunung Jati, Cirebon dijadikan pusat perdagangan multi bangsa, dan Sunan Gunung Jati sangat bertoleransi kepada pendatang.*

 

Baca pula : Sejarah Islam Masuk ke Tatar Pasundan

Berita Terkait