Trending
Sadrah, Kisah Pria Tua Terbuang dan Pasrah Akan Keadaan

Sadrah, Kisah Pria Tua Terbuang dan Pasrah Akan Keadaan

Jum'at, 23 Agustus 2019 20:32 Erni Nur'aeni Mice


 

 


"Miskin tapi boga prinsip"

- Nazarudin Azhar -

 

Koropak.co.id - Miskin tapi boga prinsip menjadi satu penggalan kalimat dari tokoh Sadrah dalam pementasan naskah "Sadrah" karya Nazarudin Azhar yang akrab disapa Nunu, yang dipentaskan oleh Teater Dongkrak Tasikmalaya, di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya, Kamis (22/8/2019) malam.

Sadrah dalam Bahasa Sunda artinya "Pasrah", menceritakan tentang seorang pria tua yang bekerja di sebuah Dinas dan menjadi pembersih sampah selama berpuluh tahun, terpaksa harus pensiun atau diberhentikan dari pekerjaannya karena kondisinya sakit parah dan sudah tua.

Namun karena keserakahan kepala dinasnya, ia pun tidak diberikan pesangon yang layak. Sadrah tua yang diperankan oleh Andar Trismana menerima kenyataan hidupnya, dan ia bertemu dengan Sadrah muda yang diperankan oleh Yudi Cemed, seorang penyair yang sangat energik, pemberani sehingga ia menantang pemerintah serta membawa massa untuk berdemo karena tanah milik warga dijadikan pembuangan sampah. Namun nahas Sadrah muda tidak selamat krena ditembak saat melakukan aksi demonstrasi.

"Ide naskah tersebut berdasarkan dengan konservasi serta beberapa kisah kehidupan di sekitar di perkotaan maupun perdesaan. Pernah satu waktu, ketika saya melihat tukang nyapu di jalan, di sana saya berpikir kenapa tidak dibuatkan naskahnya. Akhirnya, tanpa disadari banyak orang yang nasibnya sama seperti Sadrah ini," katanya.

 

 

Koropak.co.id - Sadrah, Kisah Pria Tua Terbuang dan Pasrah Akan Keadaan 2

 

Baca : Teater Dongkrak Sukses Pentaskan Naskah Sadrah



Naskah Sadrah, kata Nunu, seolah berada di masa sebelum dan sesudah reformasi, naskah tersebut pun pernah dipagelarkan beberapa kali di Bandung oleh beberapa kelompok teater.

"Masih banyak pahlawan seperti Sadrah ini yang semestinya dibela dan dinaikan derajatnya sehingga mereka lebih baik, saya membuat latar ceritanya itu sebelum reformasi dan setelah reformasi," kata Nunu.

Banyak sekali pesan yang disampaikan dalam cerita tersebut. Salah satunya, sesama umat manusia haruslah saling menghargai profesi masing-masing, meski penyapu sampah sekalipun.

Di akhir cerita, Sadrah tua yang selalu membawa "carangka runtah" berimajinasi untuk menjadi isi dari tempat sampah tersebut, dan berpasrah dengan keadaannya sekarang.

"Dia yang selalu membawa tempat sampah, berimajinasi menjadi isi dari tempat sampah tersebut dan menganggap dirinya sebagai sampah yang tidak ada harganya di mata siapapun, termasuk para pejabat dan kalangan elit," katanya.

 

Baca pula : Aum, Teater Dongkrak Tasikmalaya Tampil Memukau

 

Berita Terkait