Trending
Sayang, Di Tasikmalaya Para Perupa Keterbatasan Kolektor Karya

Sayang, Di Tasikmalaya Para Perupa Keterbatasan Kolektor Karya

Sabtu, 07 September 2019 23:43 Erni Nur'aeni Mice


 

Koropak.co.id - Pameran Seni Rupa yang bertajuk "Eksplorasi Media 2" yang dilaksanakan di Hotel Mangkubumi, Jalan A.H Nasution Kecamatan Mangkubumi Kota Tasikmalaya Jawa Barat, Sabtu (7/9/2019) memasuki hari ketiga pelaksanaan. Pameran karya seni hasil karya daur ulang limbah tersebut berlangsung dari 5-12 September 2019.

Dijumpai Koropak di area pameran, Ketua Management Pinggiran of Tasikmalaya Painting Community Afrudin Achmad mengatakan sampah yang menjadi permasalahan sampah di masyarakat, diubah menjadi karya seni artistik dengan harapan dampak limbah yang tidak dapat didaur ulang dapat berkurang.

"Bagaimana kita kemas limbah yang tidak dapat didaur ulang, kita jadikan karya seni bernilai," ujarnya.

Ditambahkan Afrudin, meskipun banyak limbah seperti sterofoam dan plastik yang belum dieksplorasi menjadi karya seni karena keterbatasan, namun ke depan akan diolah dan ditampilkan melalui pameran seni rupa selanjutnya.

"Semoga ke depan kita bisa mengadakan kegiatan ini lagi dengan bahan plastik dan sterofoam karena dua jenis sampah tersebut tengah menjadi permasalahan krusial saat ini," katanya.

 

Koropak.co.id - Sayang, Di Tasikmalaya Para Perupa Keterbatasan Kolektor Karya (4)

 

Baca : Di Pameran Seni Rupa Limbah Disulap Menjadi Bernilai Seni

Di Tasikmalaya, kata Afrudin, para seniman krisis kolektor karya seni sehingga banyak karya yang tidak tertampung. Hal ini menjadi dilema tersendiri. Namun paling tidak, pemerintah mewajibkan setiap dinas mempunyai berbagai karya dari perupa Tasikmalaya sehingga akan meningkatkan kesejahteraan perupa.

"Kita ini memang miskin kolektor paling tidak harapannya pemerintah menugaskan dinas-dinas dikantornya terdapat beberapa karya perupa Tasikmalaya, sehingga tidak monoton ruangan kantor memiliki berbagai karakter tidak itu-itu saja," ujarnya.

Harapannya, pemerintah melirik serta memanfaatkan seniman lokal sehingga mereka dapat berkarya terus menerus dan memberikan gairah.

"Di kita ini pola pikir masyarakat pun menjadi pengaruh sebab bagi orang awam karya tersebut dengan melalui berbagai proses pembuatan, dijual dengan harga luar biasa masyarakat akan memilih membeli bahan makanan karena ekonomi kita masih belum memadai," katanya.

Bahkan, kata Afrudin, tidak hanya para perupa, masyarakat pun harus diberikan pelatihan untuk mengurangi sampah terutama limbah yang tidak bisa didaur ulang.

"Jangan hanya pelatihan saja mereka pun harus diarahkan pasarnya sehingga masyarakat akan bersemangat membuat karya seni yang dihargai," katanya.*

 

Baca pula : Afrudin Achmad Dari Hobi Menjadi Profesi