Trending
Bangga, Iklim Kesusastraan di Tasikmalaya Meningkat

Bangga, Iklim Kesusastraan di Tasikmalaya Meningkat

Senin, 30 September 2019 20:32 Erni Nur'aeni Mice



Koropak.co.id - Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) dalam Kibar Budaya Jilid 5 bersama Rumpun Sastra menggelar Dramatisasi Puisi yang membawakan naskah Joko Pinurbo berjudul 'Lupa', di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya, Sabtu (28/9/2019). Semua apresiator dibuat kagum dengan pertunjukkan dari Ngaos Art.

Dikonfirmasi Koropak, Senin (30/9/2019) Ketua DKKT, Bode Riswandi mengatakan, melalui Dramatisasi Puisi, para apresiator tidak hanya disuguhi oleh pertunjukkan namun juga mendapatkan pengetahuan mengenai dramatisasi puisi.

"Dramatisasi puisi itu merupakan alih wahana dari teks puisi ke drama. Dalam suguhan Dramatisasi Puisi dari Rumpun Sastra yang dikemas dengan workshop, para apresiator akan memahami bahwa membuat suatu drama itu tidak harus menunggu naskah yang panjang, kepekaan itu dapat diasah dengan merespon puisi yang ada dalam drama," ujarnya.

Dikatakan Bode, semua puisi dapat menjadi sebuah pertunjukan asalkan para penggarap mampu menafsirkan sebuah karya puisi tersebut.

"Meskipun puisi itu bisa dibuat dramatisasinya, namun kita kembalikan lagi kepada penggarap karena puisi harus ditafsirkan dahulu secara mendalam demi menghasilkan sebuah konsep pertunjukan," katanya.

 

Koropak.co.id - Bangga, Iklim Kesusastraan di Tasikmalaya Meningkat (2)

 

Baca : Komunitas Ngaos Art Akan Pentaskan Naskah Lupa

Di pertunjukan drama, ucap Bode, para pemain maupun sutradara sudah diatur oleh sebuah dialog. Berbeda halnya dengan puisi yang membutuhkan kecerdasan mengolah kata per kata, karena bahasa puisi sangat berbeda dengan bahasa drama.

"Ini menjadi pembelajaran bagi seluruh apresiator bahkan pelaku seni. Puisi tidak hanya dapat dibuat menjadi drama, puisi juga dapat dikemas menjadi suguhan musikalisasi dan pertunjukkan lain. Dalam dramatisasi puisi, pemain dan sutradara harus mempunyai kecerdasan agar mampu menafsirkan puisi tersebut," katanya.

Melihat antusiasme apresiator dalam penampilan dramatisasi dari Ngaos Art yang disuguhkan Rumpun Seni dari DKKT, menjadi gambaran iklim kesusastraan di Tasikmalaya sangat luar biasa.

"Ini pun menjadi motivasi agar para apresiator dapat menjadi seorang kreator ke depannya," tutur Bode.*

 

Baca pula : Saat Ini, Kritikus Sastra Lebih Sedikit Dibanding Karya



Berita Terkait