Trending
Saat Ini, Kritikus Sastra Lebih Sedikit Dibanding Karya

Saat Ini, Kritikus Sastra Lebih Sedikit Dibanding Karya

Senin, 30 September 2019 20:40 Erni Nur'aeni Mice



Koropak.co.id - Dalam rangkaian Kibar Budaya Jilid 5, Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) melalui Rumpun Sastra yang dilaksanakan di Gedung Kesenian Tasikmalaya, Sabtu (28/9/2019), turut digelar Workshop Kritik Sastra yang menghadirkan tokoh kritikus sastra asal Bandung, Zulfa Nasruloh.

Workshop yang dilaksanakan sebelum pertunjukkan Ngaos Art yang membawakan naskah "Lupa" tersebut, diikuti peserta dari berbagai kalangan meliputi masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar.

Dikonfirmasi Koropak, Senin (30/9/2019) Kritikus Sastra, Zulfa Narsruloh mengatakan peranan kritik sastra sangat penting, asalkan sang kritikus haruslah memiliki latar belakang penulis, memiliki knowledge, memahami analisis karya, serta memahami sejarah analisis sastra di Indonesia maupun dunia.

"Siapapun bisa menjadi kritikus sastra. Namun yang disayangkan, masih berkembang mitos tidak ada kritikus sastra lain yang akan mengalahkan HB Jasin. Kalau mitos itu terus berkembang, saya kira tidak akan tumbuh kritikus-kritikus sastra yang mengancam regenerasi kritikus sastra di Indonesia," ujarnya.

Diketahui, kata Zulfa, jumlah kritikus sastra di Indonesia itu sangat jarang. Zulfa mencemaskan kurangnya kritikus sastra akan berdampak pada kualitas karya yang tidak memiliki tolok ukurnya.

"Persentase kritikus dan penulis itu lebih banyak penulis daripada kritikus. Kebanyakan orang ingin lebih terkenal mengorbitkan dirinya sendiri daripada mengorbitkan orang lain. Padahal, peranan kritikus sangat penting untuk menilai setiap kualitas penampil maupun karya yang ditampilkan," tutur Zulfa.

 

Koropak.co.id - Saat Ini, Kritikus Sastra Lebih Sedikit Dibanding Karya (2)

 

Baca : Bangga, Iklim Kesusastraan di Tasikmalaya Meningkat

 

Ditambahkan Zulfa, dari kurangnya kritikus sastra juga akan berdampak pada merosotnya kualitas karya. Jika pembahas atau kritikus banyak dan bekualitas akan menguntungkan bagi pencipta karya karena dapat dijadikan tolok ukur untuk membuktikan kualitas karyanya. Tentunya ini dapat menggugah iklim persaingan pencipta karya yang akan berlomba menciptakan karya-karya yang berkualitas.

"Wilayah menulis kritik adalah wilayah pengalaman menulis dan itu bisa dilatih. Semua orang bisa menjadi kritikus sastra karena melihat karya yang saat ini meluber. Namun, hilangnya kritik sastra memungkinkan akan merosotnya kualitas karya karena orang akan merasa puas dengan apa yang telah ia buat tanpa pernah ia ukur sejauh mana kualitas karya yang dibuatnya," ujarnya.*

 

Baca pula : Workshop Dramatisasi Puisi Berikan Pemahaman Bagi Apresiator



Berita Terkait