Trending
Workshop Dramatisasi Puisi Berikan Pemahaman Bagi Apresiator

Workshop Dramatisasi Puisi Berikan Pemahaman Bagi Apresiator

Senin, 30 September 2019 20:47 Erni Nur'aeni Mice



Koropak.co.id - Rumpun Sastra Dewan Kesenian Kota Tasikmalaya (DKKT) mengadakan Workshop Dramatisasi Puisi yang menghadirkan penulis Ab Asmarandana dalam rangkaian Kibar Budaya Jilid 5, yang digelar di Gedung Kesenian Kota Tasikmalaya, Sabtu (28/9/2019).

Dalam workshop tersebut para apresiator yang terdiri dari masyarakat umum, mahasiswa, hingga pelajar tidak hanya diberikan pemahaman berupa materi namun diajak pula untuk melakukan praktik membuat sebuah dramatisasi puisi yang mengangkat karya puisi orang lain atau bahkan puisi ciptaan sendiri.

Ab Asmarandana yang akrab disapa Abuy mengatakan, tidak semua puisi dapat menjadi sebuah pertunjukan dramatisasi karena harus dikaji secara mendalam dan bersamaan.

"Tidak semua karya puisi dapat menjadi pertunjukkan karena penafsirannya akan berbeda sehingga harus dikaji lebih mendalam," katanya.

Ada beberapa karakteristik yang membuat puisi dapat dijadikan pentas dramatisasi. Pada hakikatnya dramatisasi merupakan seni mendialogkan puisi, yang merupakan penggabungan dua unsur seni yaitu seni baca puisi dan seni drama.

"Hal ini sejalan dengan pendapat Suharianto, bahwa karakteristik drama adalah dialog, dramatisasi dapat diartikan sebagai upaya dialog puisi. Mendialogkan puisi akan berbeda dengan membacakan puisi secara bergantian," tuturnya.

 

Koropak.co.id - Workshop Dramatisasi Puisi Berikan Pemahaman Bagi Apresiator (1)

 

Baca : Saat Ini, Kritikus Sastra Lebih Sedikit Dibanding Karya

 

Puisi yang dapat didramatisasi, kata Abuy, adalah jenis puisi yang mengandung unsur drama berupa dialog sehingga memerlukan kolaborasi antar pemeran dan memerlukan penyutradaraan sederhana yang bertugas memberikan instruksi secara garis besar terhadap permainan dramatisasi puisi.

"Penyutradaraan ini diperlukan untuk memberikan benang merah dalam dramatisasi puisi, berupa interpretasi puisi, mengubah puisi menjadi dialog, memberikan instruksi, mengatur dialog, akting, setting dan properti seperlunya," ujarnya.

Puisi yang memenuhi syarat untuk dramatisasi, kata Abuy, merupakan puisi yang mengandung unsur naratif dan dramatik.

"Puisi untuk dramatisasi mempunyai karakteristik tersendiri, yakni bersifat monolog, sehingga dapat diubah menjadi dialog," katanya.*

 

Baca pula : Bangga, Iklim Kesusastraan di Tasikmalaya Meningkat

 

Berita Terkait